Go

Bahasa Arab Bahasa Peradaban Islam

Ditulis oleh DR. Tubagus Chaeru Nugraha
Dipublikasikan pada May 20th at 12:46am
Share :

Tahukah anda? Bahasa Arab digunakan di seluruh jazirah Arab baik sebelum maupun sesudah Rasul Allah SAW menjadi  kepala negara yang berpusat di Madinah. Kemudian, bahasa Arab berlanjut menjadi bahasa resmi negara pada masa para Khalifah Ar-Rasyidin hingga masa Khalifah Usmaniyyah. Luas wilayahnya mulai dari Maroko sampai Merauke. Pada masa tersebut, pengaruh bahasa Arab terhadap orang-orang Eropa sangat kuat, bahkan ketika seorang perjaka ingin diterima lamarannya oleh seorang gadis, maka dia akan berusaha untuk menggunakan bahasa Arab. Misalnya dengan mengatakan ,أَنَا أحبك  /‘ana  Uhibbuki/ ‘saya mencintaimu’.

Istilah peradaban الحَضَارَة /al-hadharah/ sendiri adalah sekumpulan konsep hidup dan metode unik untuk menjalani kehidupan. Mari kita perhatikan! Al-Qur’an dan As-sunnah  sebagai sumber utama konsep dan metode hidup kaum muslimin ditulis dalam bahasa Arab. Walaupun terdapat terjemahan Al-Quran dalam bahasa lain, tetapi berdasarkan penelitian nilai pemaknaannya masih berada di kategori cukup baik.1 Artinya, secara leksikal dan gramatikal sudah tepat pemaknaannya, tapi belum cukup jelas bagi pembaca. Sehingga masih memerlukan terjemahan tafsir Al-Quran.

Contoh, ketika kita membaca الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ /Al-hamdu li-‘llahi rabbi ‘l-‘alamin/ artinya ‘segala puji bagi Allah, Rab (pencipta, pemelihara) alam semesta’.  Terjemahan /alhamdu li-‘llahi/ ‘segala puji bagi Allah’ sudah tepat, hanya saja belum jelas bagi pembaca, ada apa saja pujian bagi Allah? ada berapa bentuk pujian? Pada tafsir Al-Quran dijelaskan bahwa ada empat bentuk pujian, yaitu: (1) Allah (Al-Khaliq), Yang Maha Pencipta memuji diri-Nya sendiri; (2) makhluk memuji Allah; (3) Allah memuji makhluk; dan (4) sesama makhluk saling memuji.2 Semua bentuk pujian tersebut hakikatnya milik Allah.

Demikian juga halnya dengan terjemahan hadits Nabi SAW, masih memerlukan penjelasan dari syarah hadits para ulama.  Contohnya, ketika kita membaca /Laa yu’minu ahadukum hatta yuhibba li-akhihi maa yuhibbu li-nafsihi لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ 3 artinya; ‘tidak beriman salah seorang di antara kalian sehingga kalian mencintai saudaranya sebagaimana mencintai dirinya sendiri’. Betulkah terjemahan /Laa yu’minu/ ‘tidak beriman’? secara gramatikal memang sudah tepat, tetapi hanya saja perlu penjelasan lebih, karena secara kontekstual dalam syarah hadits  maknanya berarti ‘tidak sempurna keimanannya'.4

Disinilah antara lain pentingnya kita memahami bahasa Arab sebagai bahasa peradaban Islam, agar kita lebih tepat dan jelas memahami sumber konsep dan metode kehidupan kita. Mari kita semangat belajar bahasa Arab agar peradaban Islam kembali tegak!

 

References

1 Salah satu hasil penelitian yang dipresentasikan di acara IMLA UGM (2003); IMLA merupakan organisasi para pengajar bahasa Arab se-Indonesia.

Tafsir Al-Jalalein

Shahih Bukhari-Muslim

Syarah Ibnu Baththaal dan Syarah an-Nawawi ‘ala ‘l-muslim

Artikel Lainnya

3000 kata inti Oxford Dictionary
Present continuous Tense
Ever
Kata Kerja yang tidak Bisa dipasifkan di dalam Bahasa Inggris
Sort, Type, dan Kind
©2019 BelajarBahasa.ID
Developed by Kodelokus Cipta Aplikasi