Go

Perbedaan dan Jenis-Jenis Vokal, Konsonan, dan Diftong

Ditulis oleh Aan Setyawan
Dipublikasikan pada September 21st at 5:27pm
Share :

Samsuri (1994:95) secara umum menggolongkan bunyi menjadi dua kelompok utama yang disebut vokoid dan kontoid. Bunyi vokoid adalah artikulasi/bunyi yang secara relatif tidak ada hambatan atau rintangan antara paru-paru dan udara keluar. Sementara bunyi kontoid adalah artikulasi yang terdapat hambatan atau rintangan antara paru-paru dan udara keluar. Samsuri membedakan istilah vokoid dan kontoid dengan vokal dan konsonan. Istilah vokoid dan kontoid digunakan dalam ilmu bunyi, sedangkan vokal dan konsonan digunakan dalam ilmu fonem

Alwi dkk (2010:50) mengutarakan bahwa vokal adalah bunyi bahasa yang asrus udaranya tidak mengalami rintangan dan kualitasnya ditentukan oleh tiga faktor: tinggi rendahnya posisi lidah, bagian lidah yang dinaikkan, dan bentuk bibir pada pembentukan vokal itu. Bunyi konsonan dibuat dengan cara yang berbeda. Pada pelafalan konsonan, ada tiga faktor yang terlibat: keadaan pita suara, penyentuhan atau pendekatan berbagai alat ucap, dan cara alat ucap itu bersentuhan atau berdekatan. Pada pelafalan konsonan pita suara mungkin merapat, tapi mungkin juga merenggang. Dengan kata lain, suatu konsonan dapat dikategorikan sebagai konsonan yang bersuara atau yang tak bersuara. Misalnya [p] dan [t] adalah konsonan yang tak bersuara, sedangkan [b] dan [d] adalah konsonan yang bersuara.

Samsuri (1994:95) membagi lima jenis artikulasi yang menjadikan bunyi konsonan, yaitu:

a. HAMBAT. Apabila terdapat hambatan menyeluruh pada salah satu tempat antara paru-paru dan udara luar, sehingga jalan arus udara tertutup. Misalnya: p, t, k, b, d, g, Ɂ, di dalam kata-kata /papa/, /tata/, /baba/, /dada/, /gagu/, /anak/.

b. NASAL. Jalan arus udara di mulut mungkin seperti pada (a), tetapi dengan membuka jalan ke rongga hidung. Misalnya: m, n, ñ, ŋ, di dalam kata-kata /mana/, /nama/, / ñ ata/, / ŋ a ŋ a/.

c. SPIRAN/GESER. Jalan arus udara mungkin dihalangi pada salah satu tempat, sehingga hanya merupakan sebuah lubang kecil yang berbentuk sebagai lembah panjang atau sebagai celah yang dilalui oleh udara itu. Misalnya: f, s, sy di dalam kata-kata /fakta/, /sama/, /syarat/.

d. LATERAL. Garis tengah jalan di mulut mungkin terhambat, tetapi sebuah lubang mungkin tinggal sepanjang sebelah atau kedua belah sisi yang dilalui arus udara. Misalnya: l, yang terdapat dalam kata /lalat/.

e. GETAR. Arus udara yang lalu itu mungkin menyebabkan sebuah alat yang elastis bergetar dengan cepat. Misalnya: r yang terdapat dalam kata /rata/.

Berdasarkan alat ucap atau artikulatornya dibagi menjadi lima, yaitu:

a. LABIAL. Bunyi-bunyi yang dibentuk oleh bibir bawah. Jika bibir bawah menyentuh bibir atas, bunyi-bunyi itu disebut BILABIAL, dan bila bibir bawah menyentuh gigi atas, bunyi-bunyi itu disebut LABIODENTAL.

b. DENTAL. Bunyi-bunyi yang dihasilkan oleh ujung lidah dan pada tepi bagian depan gigi atas atau di antara gigi atas dan bawah, dan pada bagian dalam gigi atas.

c. PALATAL. Bunyi-bunyi yang dihasilkan dengan bagian depan lidah dengan langit-langit keras.

d. VELAR. Bunyi-bunyi yang dibentuk dengan dorsum. Dorsum adalah bagian belakang dari lidah yang memanjang kira-kira empat sentimeter dari apex sampai bagian belakang mulut.

e. GLOTAL. Bunyi yang pengucapannya dilakukan terutama oleh selaput suara. Bunyi-bunyi ini umpamanya hambat glotal (hamzah) /h/ dan /h/ yang bersuara atau digumamkan.

Diftong

Pada beberapa bunyi vokal, luncuran komponennya sangat dominan sehingga vokal tersebut tidak dapat diidentifikasi sebagai satu jenis vokal meskipun tetap terdengar seperti satu bunyi. Bunyi yang demikian dinamakan diftong, (Clark dan Yallop:1995). Dalam kamus linguistik, Kridalaksana (2009:49) mendefinisikan diftong adalah bunyi bahasa yang pada waktu pengucapannya ditandai oleh perubahan gerak lidah dan perubahan tamber satu kali, dan yang berfungsi sebagai inti dari suku kata. Contoh diftong yang ada pada bahasa Indonesia misalnya /oy/, /ay/, /aw/ dan sebagainya.

Menurut Alwi dkk (2010:27) yang dimaksud dengan diftong adalah gabungan bunyi dalam satu suku kata, tetapi yang digabungkan adalah vokal dengan /w/ atau /y/. Jadi, /aw/ pada /kalaw/ dan /baŋaw/ adalah diftong, tetapi /au/ pada /mau/ dan /bau/ bukanlah diftong. Fonem /aw/ pada kata kalau dan bangau termasuk dalam satu suku kata, yakni masing-masing /ka-law/ dan /ba-ŋaw/; fonem-fonem /a/-/u/ pada kata mau dan bau masing-masing termasuk dalam dua suku kata yang berbeda, yakni /ma-u/ dan /ba-u/.

**Sumber Bacaan*

Alwi, Hasan, dkk. (2010). Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka

Kridalaksana, Harimurti. (2009). Kamus Linguistik. Jakarta: Gramedia

Samsuri. (1994). Analisis Bahasa. Jakarta: Penerbit Erlangga

Artikel Lainnya

Bedanya Practice dan Practise
Will and would
Ciri Kalimat Efektif
Perbedaan Penggunaan Preposition dan Conjunction
Mengkaji Budaya Melalui Linguistik Antropologi
©2019 BelajarBahasa.ID
Developed by Kodelokus Cipta Aplikasi